Demonstrasi Mahasiswa, Masih Relevankah?

Bagi sebagian mahasiswa, demonstrasi mahasiswa atau yang lebih kondang disebut aksi mungkin bukanlah hal yang baru lagi. Demonstrasi mahasiswa pernah mencapai puncaknya ketika berbagai elemen mahasiswa dan kesatuan elemen-elemen masyarakat lainnya bergabung untuk ikut “menduduki” gedung DPR/MPR di Senayan yang berimplikasi langsung ikut andil pada kejatuhan Soeharto, setelah berkuasa 32 tahun lamanya. Proses-proses pemerintahan setelah tahun 1998 tersebut kondang disebut Masa Reformasi. Hingga 11 tahun masa reformasi berlangsung, belum terlihat kemajuan konkret di Indonesia, apabila parameter nya adalah tingkat ekonomi dan pendidikan, sedangkan dalam bidang kebebasan bersuara, dan kebebasan pers, inilah surga dunia. Masyarakat Indonesia pada saat ini begitu mudah menikmati arus informasi dan begitu gampangnya mengemukakan pendapat, salah satunya adalah kemudahan bagi kita untuk membuat dan menulis blog seperti ini.

Masa reformasi ini juga memberikan angin segar bagi pergerakan mahasiswa, yang oleh sebagian masyarakat, dianggap sebagai elemen penting bagi kejatuhan orde baru. Oleh karena itu, tidak heran semenjak tahun 1998 sampai sekarang ini kuantitas aksi mahasiswa meningkat tajam. Di berbagai daerah, mahasiwa kerap kali melakukan aksi damai maupun tidak damai dalam menanggapi suatu permasalahan. Yang kemudian menjadi topik pembicaraan adalah, masih relevan kah demonstrasi mahasiswa dalam membantu menyikapi berbagai masalah bangsa saat ini?

Beberapa waktu yang lalu, masalah ini pernah terlontar dalam forum kampus saya, yaitu SCeLE Fasilkom, pada sebuah topik yang berjudul Aksi Solidaritas Kenapa Bakar Mobil??? , dan beberapa komentar menarik muncul dari teman-teman saya, terutama mempertanyakan esensi dan niat dari aksi itu sendiri, apakah benar-benar niat mulia yang merupakan landasan dari aksi mahasiswa tersebut? Hal ini wajar sebab aksi mahasiswa seringkali diikuti dengan aksi bakar roda, aksi menutup jalan, dan minimal menghasilkan kemacetan parah disekitar tempat aksi. Seringkali aksi simpatik yang dilakukan ternyata diimplementasikan dengan cara-cara yang tidak simpatik. Belum lepas dari ingatan saya ketika unjuk rasa teman-teman mahasiswa di Makassar mengakibatkan kerusuhan parah, ataupun unjuk rasa teman-teman mahasiswa di Tapanuli yang berujung pada meninggalnya ketua DPRD Sumut. Beberapa kalangan, termasuk saya pun mempertanyakan efektifitas dan efisiensi yang dihasilkan dari aksi mahasiswa, apakah aksi mahasiswa MASIH TETAP RELEVAN untuk dilakukan. Tidak sedikit pihak yang merasa bahwa demo merupakan salah satu bentuk superioritas mahasiswa yang merasa berperan dalam kejatuhan orde baru, dan hal ini mungkin ada benar nya  juga, tetapi saya sebagai anak UI juga merasa dirugikan dengan stigma-stigma tersebut, mengingat kita sebagai mahasiswa juga harus berperan sebagai social control dan agent of change, yaitu mengubah hal-hal yang tidak baik di masyarakat menjadi hal yang baik.

Saya termasuk pribadi yang kurang setuju dengan aksi mahasiswa, terutama karena hal-hal diatas. Tetapi dalam beberapa kesempatan, aksi bisa jadi dibutuhkan, terutama pada saat tidak ada satu orang pun yang menentang kezaliman. Pada saat itulah aksi dibutuhkan, terutama untuk membuka mata masyarakat. Tapi ketika aksi yang diharapkan adalah aksi yang anarkis, apalagi yang mengorbankan akademis, no way!!

One response to “Demonstrasi Mahasiswa, Masih Relevankah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s