Analisis Calon Gubernur DKI Jakarta dari Perspektif (Seorang) Mahasiswa Ilmu Komputer

Saat ini pemilihan gubernur DKI Jakarta sedang memasuki tahap kedua. Terdapat dua calon gubernur yang akan berkompetisi, yaitu Fauzi Bowo dan Joko Widodo. Pemilihan tahap kedua sendiri akan berlangsung tanggal 20 September 2012. Akan ada jutaan penduduk Jakarta yang menggunakan hak pilihnya untuk memilih pemimpin dan menggantungkan masa depan Jakarta selama 5 tahun ke depan kepada salah satu calon.

Dalam perjalanannya, kampanye kedua calon gubernur sangat sengit dan cenderung keras. Tim sukses dari kedua calon gubernur menonjolkan kekuatan masing-masing dan menyerang kelemahan calon lainnya. Hal ini membuat isu-isu yang disampaikan oleh masing-masing calon menjadi kurang objektif dan bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan kompetensi calon gubernur yang diusung. Jarang sekali kita mendengar informasi yang sangat akurat mengenai kedua calon dari sisi pengetahuan dan kompetensi mereka dalam memimpin.

Dalam artikel di bawah ini saya akan mencoba memberikan informasi dan pendapat saya mengenai kedua calon dari berbagai sisi. Saya adalah orang yang non-partisan dan tidak terafiliasi dengan calon manapun. Saya juga tidak tertarik menggunakan isu agama dan kesukuan untuk menggambarkan kompetensi para calon. Terlebih lagi, saya tidak bisa memilih salah satu calon, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk mendukung salah satunya. Mudah-mudahan artikel saya bisa memberikan masukan yang baik kepada para penduduk Jakarta sebelum menggunakan hak pilihnya pada hari pemilihan nanti🙂

Background

Calon imcumbent, Fauzi Bowo, berasal dari kalangan akademis. Beliau adalah mantan dosen Universitas Indonesia sebelum akhirnya memutuskan menjadi birokrat di lingkungan DKI Jakarta. Lulusan TU Kaiserslautern ini juga mempunyai background akademis yang cocok dengan masalah yang dimiliki DKI Jakarta saat ini, yaitu teknik sipil. Dengan background tersebut, saya mengasumsikan bapak Fauzi Bowo memiliki kapabilitas yang cukup untuk menyelesaikan masalah di Jakarta. Namun, kita mengetahui bahwa DKI Jakarta adalah sebuah kota yang sangat kompleks dan kemampuan akademis dalam bidang teknik seringkali tidak cukup untuk menyelesaikan masalah perkotaan yang banyak sisi sosiologisnya.

Calon gubernur yang kedua, Joko Widodo, berasal dari kalangan wiraswasta. Beliau sebenarnya tidak mempunyai background akademis di bidang bisnis. Namun dengan ketekunan dan intuisi, bapak Joko Widodo dapat menunjukkan bahwa beliau tidak butuh gelar akademis untuk menjadi sukses di bidang yang baru. Dalam kasus permasalahan yang dihadapi DKI Jakarta, gelar Sarjana Kehutanan mungkin tidak cukup mendukung beliau, tetapi kemampuan untuk belajar hal yang baru serta kedinamisan yang dimiliki dalam bidang bisnis sebenarnya dapat membantu beliau untuk memahami permasalahan di DKI Jakarta. Tetapi, patut diakui bahwa pengetahuan spesifik di bidang sipil sangat dibutuhkan dalam memimpin suatu daerah.

Dari sisi ini, saya melihat kedua calon gubernur seimbang. Keduanya memiliki latar belakang akademis di perguruan tinggi, dan saya asumsikan seseorang yang sudah melalui pendidikan tinggi mempunyai kemampuan deduksi dan penyelesaian masalah yang baik.

Pembawaan

Pembawaan dan sense of leadership penting bagi seorang pemimpin. Masyarakat harus tahu bahwa pemimpinnya dapat memimpin dan masyarakat juga harus tahu bahwa pemimpin mereka mengayomi rakyatnya.

Sebagai seorang pemimpin, saya melihat bapak Fauzi Bowo adalah sosok yang pembawaannya kurang “mengayomi”. Beliau tegas dan dalam kasus tertentu sangat tanggap dalam menangani masalah, namun menurut saya beliau kurang “lembut” dalam menangani rakyatnya. Sebagai contoh, kontroversi “nyolok di solo aja sono” beberapa waktu yang lalu menunjukkan beliau kurang respek terhadap masyarakat. Hal ini akhirnya menimbulkan kontroversi dan pada akhirnya malah merugikan beliau sendiri.

Sifat yang lebih persuasif ditunjukkan oleh bapak Joko Widodo. Sejak awal, banyak masyarakat yang kagum kepada beliau karena sifatnya yang lugu, blak-balakan, humoris, dan sangat merakyat. Hal ini juga yang mungkin membantu beliau memenangi Pilkada kota Solo dengan keunggulan 90% beberapa waktu yang lalu. Menurut saya, hal ini lah yang menjadi sisi positif beliau dan membantu beliau memenangi putaran pertama beberapa waktu lalu.

Saya tertarik untuk menyamakan bapak Fauzi Bowo dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin dan bapak Joko Widodo dengan Barack Obama dalam beberapa sisi. Fauzi Bowo merupakan pemimpin yang dingin, kaku, dan ogah melakukan pencitraan pribadi tetapi sistematis dalam bekerja. Sementara Joko Widodo sangat mirip dengan Barack Obama yang hangat, humoris, dan ngayomi sehingga membuat rakyat tergila-gila.

Perencanaan Jakarta

Seorang pemimpin yang akan memimpin Jakarta ke depannya harus mempunyai plan yang jelas untuk daerah yang akan dipimpinnya. Oleh karena itu, seorang calon gubernur DKI Jakarta seharusnya sudah memiliki plan yang mengenai DKI Jakarta dan data-data mengenai ibukota Indonesia ini seharusnya sudah lengkap ada dalam genggaman mereka.

Menurut saya, Fauzi Bowo sangat kuat dalam hal ini. Sebagai seorang birokrat yang sudah bertahun-tahun mengabdi untuk Jakarta, tidak mungkin seorang Fauzi Bowo tidak memiliki pengetahuan tentang apa masalah yang dihadapi DKI Jakarta. Sebagai seorang gubernur yang sedang menjabat, beliau memiliki keunggulan dalam data-data kependudukan, yang bisa menjadi modal berharga dalam menentukan program kerja apa yang paling baik diprioritaskan untuk warganya. Masalah yang dihadapi sekarang adalah bagaimana merangkum dalam menerjemahkan setiap data-data tersebut menjadi sebuah program kerja yang mempunyai manfaat nyata bagi masyarakat.

Hal sebaliknya ditunjukkan oleh bapak Joko Widodo. Memang benar bahwa beliau mungkin tidak memiliki data-data selengkap calon imcumbent. Namun, hal yang paling mengganggu saya adalah cara beliau untuk menyelesaikan permasalahan di Jakarta dengan menggunakan perspektif daerah dimana beliau menjabat sebagai walikota saat ini, yaitu Solo. Menurut saya, Jakarta tidak sama dengan Solo dalam berbagai sisi. Apabila nantinya bapak Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta, apakah pendekatan persuasif dengan mengadakan arak-arakan pada saat pemindahan pasar dapat dilakukan? Secara sosiologis, DKI Jakarta sangat berbeda dengan Solo.

Saya tertarik untuk menyamakan bapak Jokowi dengan George W. Bush. George W. Bush dulunya adalah gubernur Texas yang kemudian menjadi Presiden AS. Dalam masa kepemimpinannya, George W. Bush gagal membawa beberapa kebijakannya selama memimpin Texas menjadi kebijakan negara, salah satunya adalah kebijakan renewable energy yang kurang sukses diterapkan pada saat beliau menjadi presiden AS (New York Times, 2007).

Kesimpulan

Bagi pembaca yang malas membaca penjelasan panjang-lebar saya di atas, saya berusaha untuk merangkum beberapa poin yang menurut saya penting dalam memimpin Jakarta serta nilai positif atau negatif bagi kedua calon dari perspektif saya. Poin-poinnya dapat dilihat pada table berikut ini :

Poin Fauzi Bowo Joko Widodo
Pengetahuan Akademik Mempunyai kapasitas akademis yang baik, lulusan teknis sipil dari universitas di Jerman Punya kapasitas akademik yang baik (bergelar Sarjana) tetapi kurang spesifik untuk permasalahan Jakarta
Pengetahuan Non-Akademik (soft skill) Belum banyak terlihat di dalam kehidupan sehari-hari, karena lama berkecimpung di dunia akademis dan birokrat Sukses dalam berwirausaha, sehingga diasumsikan kemampuan manajerial dan interpersonal cukup baik
Pembawaan / Sifat Cenderung kurang ekspresif, blak-blakan dan apa adanya, sehingga terkadang menimbulkan kontroversi di masyarakat Supel, mudah bergaul dengan warga, hangat dan humoris sehingga membuat warga Jakarta dengan mudah jatuh hati
Kemampuan beradaptasi dengan banyak situasi Beliau sukses dalam bidang akademis dan birokrasi, serta cukup lama menetap di luar negeri sehingga saya asumsikan beliau punya pengalaman untuk beradaptasi dalam lingkungan yang baru. Menghabiskan sebagian besar waktu di wilayah Jawa bagian tengah, kurang eksposure terhadap wilayah dan budaya lain di Indonesia dan dunia walaupun beliau pernah berkata sering keluar negeri untuk urusan bisnis.
Pengetahuan tentang budaya Jakarta Sebagai orang asli Jakarta, ini salah satu keunggulan beliau. Isu primordialisme tidak tertarik untuk saya angkat, tapi pengetahuan tentang budaya Jakarta jelas perlu karena kita hidup di Jakarta. Kurang eksposure dari media mengenai masalah. Cenderung menggunakan pendekatan jawa dalam menyelesaikan suatu masalah.
Pengetahuan dan pengalaman Mempunyai pengetahuan dan pengalaman karena sudah lama menjadi birokrat (gubernur) Mempunyai pengetahuan dan pengalaman karena sudah lama menjadi birokrat (walikota)
Perencanaan kota Punya pengetahuan dalam bidang ini, tetapi belum terlalu terlihat implementasinya di DKI Jakarta dalam beberapa waktu ke belakang. Punya bukti positif selama menjabat sebagai walikota Solo, tetapi belum dapat dibuktikan berhasil apabila diterapkan di DKI Jakarta
Peluang membuat “gebrakan” Kecil peluang membuat “gebrakan” karena beliau cenderung menggunakan pendekatan-pendekatan formal dalam perumusan kebijakan publikasi. Belum terlihat suatu “gebrakan” dari beliau selama 5 tahun ke belakang memimpin Jakarta Merupakan salah satu sisi kuat beliau. Telah beberapa “gebrakan” dilakukan beliau selama menjabat dan beberapa diantaranya memberikan hasil positif bagi Solo.
Faktor non-teknis Cenderung dirugikan karena banyak faktor eksternal yang memberikan kesan kurang baik kepada beliau. Selain itu, pembawaan dan sikap beliau sendiri terkadang menjadi bumerang. Cenderung diuntungkan dengan eksposure besar-besaran oleh media yang (terkadang) tidak berimbang. Tetapi seringkali terpojok oleh isu-isu primordialisme dan agama. Namun, pendekatan sarkastis dan tim sukses beliau dalam kasus kebakaran beberapa waktu lalu bisa jadi preseden buruk.

Penutup

Artikel ini murni merupakan hasil pemikiran saya pribadi. Mohon maaf jika ada data-data yang kurang lengkap atau kurang tepat. Mari kita gunakan hak pilih kita untuk pilkada yang akan datang dengan cermat dan selamat memilih!🙂

Sumber :

Gambar diambil dari berbagai sumber :

One response to “Analisis Calon Gubernur DKI Jakarta dari Perspektif (Seorang) Mahasiswa Ilmu Komputer

  1. Untung saya bukan warga DKI Jakarta, jadinya tidak perlu pusing-pusing memilih, karena keputusan yang sulit sih, dari masing-masing calon ada keunggulan, tetapi ada kelemahan juga.

    Tapi mungkin pendapat saya, kalau Pak Foke terpilih, beliau harus (1) belajar untuk lebih kreatif dalam membuat gebrakan degan sumber daya yang beliau miliki (kemampuan pribadi, data-data, dsb.); saya yakin beliau cerdas; (2) sebagai orang nomor satu di Provinsi DKI Jakarta, sudah tidak waktunya lagi untuk bersikap terlalu kaku dalam kungkungan birokratis, justru sebagai gubernur, keputusan ada di tangan beliau (walaupun masih harus tunduk pada koridor Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945), sementara para birokrat di bawahnya itu menunggu komando dari beliau.

    Kalau Pak Jokowi terpilih, beliau harus (1) mampu meyakinkan partai-partai di DPRD (yang didominasi oleh non-pendukung selama kampanye) agar mau bekerja sama, karena bagaimanapun kepemimpinan di DKI Jakarta bukan one man show, tetapi berhasil atau gagalnya akan diatributkan kepada sang pemimpin sendiri; (2) cepat belajar dan beradaptasi dengan kondisi di DKI Jakarta karena secara sosio-ekonomi, Jakarta tidak sama dengan Solo, sehingga pendekatan di Solo jika diterapkan secara mentah-mentah akan diragukan efektivitasnya.

    Artikel yang bagus, tetapi akan lebih bagus jika ada tambahan poin tentang calon wakil gubernur dan bagaimana calon gubernur dan wakil gubernur, apabila terpilih, bisa bersinergi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s